Sabtu, 28 Februari 2015

Dakwah-dakwah Pendek & Singkat Terbaru


Assalamu`alaikum, Wr.Wb. Sahabat yg baik hati apakah rambut kalian sudah beruban..?
Rasulullah sendiri beruban. Diriwayatkan, Abu Bakar bertanya kenapa rambut beliau begitu lekas beruban. Rasulullah menjawab, “Surat Hud, Al-Waqiah, Al-Mursalat, An-Naba, dan At-Takwir, itulah yang menyebabkan rambutku lekas putih”.
Rasulullah ngeri dengan surat-surat itu karena banyak bercerita tentang kedahsyatan kiamat dan balasan atas keingkaran umat-umat terdahulu. Rasulullah amat takut sekiranya yang menerima ayat-ayat azab itu adalah umat beliau sendiri, yaitu kita.
Maka soal uban, Rasulullah menegaskan, “Uban adalah cahaya bagi seorang mukmin. Tidaklah seseorang beruban, walau hanya sehelai, kecuali setiap ubannya akan dihitung sebagai kebaikan yang akan meninggikan derajatnya”. (Shahihul Jami’).
Dan meski umumnya uban tumbuh pada umur 40 tahun, faktanya tidak sedikit orang sekarang sudah beruban meski umurnya baru 25-an tahun. Bagi kaum beriman, tentu uban harus dimaknai sebagai peringatan bahwa hidup di dunia tidak pernah lama. “Uban merupakan tanda perpisahan dengan masa kanak-kanak,” demikian dijelaskan Imam Al-Qurthubi.
Dengan kata lain, ketika kepala kita sudah ditumbuhi uban, berarti kita telah dewasa dan bertanggung jawab penuh atas setiap ucapan dan tindakan kita di dunia. Semua ada harganya di mata Allah. “Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir, dan apakah tidak datang kepadamu peringatan?” (Fathir: 37). Menurut sebagian mufasir, makna peringatan dalam ayat ini adalah uban.


Demikian juga ketika Allah telah memberi umur kepada manusia hingga 60 tahun, berarti Allah tidak akan menerima alasannya tidak taat kepada Allah. Tidak ada bonus umur ketika ajal menjemput. Padahal, Allah telah menakdirkan umur umat zaman ini tidak sepanjang umat terdahulu. Rasulullah bersabda, “Umur umatku antara 60 hingga 70 tahun. Sedikit dari mereka yang melebihi itu.” (At-Tirmidzi, dihasankan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, 11/240). Bahkan ajal kerap menjemput kita dalam umur yang lebih muda dari itu.
Tentu ini mengandung hikmah sendiri. Yaitu agar kita tidak terlibat dengan urusan dunia kecuali sebentar. Umat-umat terdahulu yang diberi umur panjang, badan kuat, dan rezeki banyak terbukti malah sombong dan berpaling dari Allah. Kita diberi jatah umur pendek, badan lemah, dan sedikit rezeki, hikmahnya adalah agar kita lebih bersyukur dan mengabdi kepada Allah (Faidhul Qadir Syarh Al-Jami As-Shaghir).
Kinilah saatnya kaum beriman bijak dalam berhitung. Bertambahnya umur sesungguhnya adalah berkurangnya jatah hidup di dunia. Adalah fakta bahwa meski sudah paham hidup ini fana, banyak dari kita yang terlena. Gemerlap dunia begitu memukau mata hati kita. Maka harus ada tanda fisik yang menjadi pengingat. Dalam kaitan inilah uban menjadi penting maknanya. Terima kasih, semoga bermanfaat dan menjadi peringatan bagi kita semua.

Dakwah-dakwah Pendek & Singkat Terbaru

Dakwah-dakwah Pendek & Singkat Terbaru



Assalamu`alaikum, Wr. Wb. Sahabat yg baik hati, “Orang yang tidur tidak akan tahu kalau dirinya sedang bermimpi kecuali setelah bangun, begitu juga orang yang lupa (lalai) akan akhirat tidak akan tahu kalau dirinya sedang menyia-nyiakan amal akhirat, kecuali setelah datangnya kematian. Ya Allah jangan jadikan kami orang-orang pelupa (lalai)”. (Syaikh Sami al-Musaithir)



Dakwah-dakwah Pendek & Singkat Terbaru


Assalamu`alaikum, Wr. Wb. sahabat semoga di Rahmati Alloh,Ketika Imam Al-Gazali bertanya kepada Muridnya “Apa yang PALING DEKAT dengan diri kita di dunia ini ?”. 

Murid-muridnya menjawab: 
“Orang tua, guru, kawan dan sahabatnya”. 
Imam Ghazali menjelaskan, 
“Semua jawaban itu benar. Tapi yang paling dekat dengan kita 
adalah “MATI”. Sebab itu memang janji Allah 
SWT bahwa dalam Surah Ali 
'Imran ayat 185 
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.
Sahabat semoga ini menjadi pemicu semangat beribadah kita kep.Alloh SWT.

Dakwah-dakwah Pendek & Singkat Terbaru

Assalamu`alaikum, Wr Wb. sahabat yg baik hati, Seseorang tidak mungkin dapat menjaga hati bahkan juga mengusir syaitan yang menyerangnya melainkan dengan mengetahui pintu-pintu yang terdapat dalam hatinya. Pintu-pintu yang dapat dimasuki syaitan diantaranya adalah:
Iri hati
Dengki
Ambisi
Emosi
Hawa nafsu (kemaksiatan)
Kemegahan (bermewah-mewah)
Cinta (lawan jenis)
Kesombongan
Ketergesaan
Aku berlindung kp. Alloh dr godaan Syaitan yg terkutuk.